Entri Populer

Rabu, 24 November 2010

materi akuakultur


BAB 1
BASIS AKUAKULTUR

Akuakultur merupakan suatu kegiatan produksi biota akuatik (animal dan aquatic plant) untuk tujuan komersial yang melibatkan aktivitas pembenihan, pendederan, pembesaran, pemanenan, handling dan transportasi, serta pemasaran. Penjelasan tentang komponen bioteknis akuakultur, meliputi pengadaan benih, manajemen media, kesehatan, dan pakan serta interaksinya. Aspek ekonomis seperti pemilihan komoditas dan potensi pasar juga diajarkan. Dasar-dasar Akuakultur menjelaskan tentang komponen akuakultur yang terdiri dari ikan, air, wadah dan pakan, serta hubungan antar komponen tersebut, prinsip-prinsip yang mendasari peningkatan produktivitas perairan dan pengelolaan akuakultur yang berorientasi kepada keuntungan dan keberlanjutan, mulai skala unit terkecil hingga kawasan akuakultur.

Basis akuakultur meliputi :
Akuakultur Berbasis Tropical Level
Konsep akuakultur berbasis tropical level yakni limbah menjadi pakan alami merupakan langkah tepat untuk membangkitkan perikanan nasional. Demikian ungkap Prof Enang Harris Surawidjaja pada Orasi Ilmiah Guru Besar Tetap Ilmu Akuakultur Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB) Sabtu (20/5) di Auditorium Rektorat Kampus IPB Bogor. Pada era makanan alami, produksi akuakultur Indonesia masih berbentuk piramida aeotrophic level. Akuakultur berbasis tropical level atau piramida tingkatan rantai makanan yakni ikan karnivora (pemakan daging) berada pada puncaknya, disusul omnivora (pemakan segala), selanjutnya herbivora (pemakan tumbuhan) dan detritivora (pengurai). Saat itu ikan karnivora relatif sedikit disusul omnivor selanjutnya detritivora dan herbivor yang terbanyak. Tapi pada era pakan buatan atau akuakultur intensif produksi nasional Indonesia menjadi piramida terbalik. Ikan-ikan yang diproduksi dengan mengkonsumsi pellet 66 persen sementara yang berbasis pakan alami 34 persen, ujar Enang. Aquakultur intensif yang dicirikan adanya pergantian air, peningkatan oksigen dan pemberian pakan buatan (pellet) merupakan bentuk pemaksaan alam. Pemaksaaan ini bisa mencapai 67.000 kali lipat dari proses alamiah dan konsekuensinya menimbulkan tumbukan limbah tak terurai. Limbah ini kemudian menjadi racun yang mematikan ikan budidaya. Kematian ikan masal secara tiba-tiba pada tambak salah satunya diakibatkan akuakultur intensif. Prinsip akuakultur berbasis tropic level yakni memanfaatkan semua nutrien limbah budidaya ikan utama yang jumlahnya lebih besar daripada yang diretensi jadi daging. Limbah ini dimanfaatkan untuk budidaya rumput laut, kerang-kerangan, tiram, teripang, detritivora, herbivora dan omnivora,  jelas Pria kelahiran Sumedang, 21 Agustus 1949. Akuakultur berbasis tropic level akan menghasilkan komoditas utama ikan budidaya dan komoditas sampingan yang jumlahnya lebih besar dengan biaya murah. Disamping itu menghasilkan rendemen limbah yang rendah sebab semua limbah termanfaatkan dan ramah lingkungan. Menurut Bapak dari tiga anak ini negara Cina telah menerapkan konsep akuakultur tropical level sebelum penanggalan Masehi. Katanya, dengan dicirikannya 4 hal pokok :Pertama akuakultur Cina berbasis kesuburan telah matang sebelum era budidaya berbasis pellet datang, Kedua pengembangan akuakultur harus seperti pengembangan produksi ternak, Ketiga setiap penambahan produksi berbasis pellet diimbangi dengan pembesaran yang lebih lagi pada dasar piramida, dan keempat pendekatan pengembangan akuakultur dilakukan secara holistik. Sepulang training di Cina tahun 2001 sampai sekarang saya konsisten dan akan terus menyuarakan serta melaksanakan semampu saya teknologi berbasis tropic levelâ dengan harapan bermanfaat bagi kebangkitan akuakultur Indonesia, kata Koordinator Dewan Pakar Masyarakat Perikanan Indonesia ini.

Basis Budaya dan Sosial-Ekonomi, diantaranya
Perikanan Tangkap
Mulai dari ‘menangkap ikan’ untuk subsisten. Perkembangan teknologi armada dan alat
tangkap akan mempengaruhi
- Keterbatasan hasil tangkapan 
- Keterbatasan sumberdaya perairan
- Keterbatasan sumberdaya ikan
- Keterbatasan distribusi hasil tangkapan

Basis Biologi dan Teknologi, diantaranya
Akuakultur : Secara ekonomis, relatif efisien untuk memproduksi bahan pangan berprotein dibanding dengan peternakan, jika jenis dan teknik budidaya diterapkan dengan tepat.
-    Kebutuhan energi hewan poikiloterm (ikan) > rendah
-    Kehilangan energi minimal  (à massa air)
-    Kebutuhan energi hewan berdarah dingin utk thermo-regulasi, rendah
à Laju pertumbuhan lebih cepat
à Produksi per unit area lebih tinggi
à Energi untuk mendapatkan makanan, kecil àfilter-feeder sessile (e.g. kerang dan rajungan)
à Food conversion ratio’ untuk ikan lebih baik (1:1 – 1:1,25)
à  Ikan lebih baik dalam memanfaatkan protein  yang terkandung dalam pakan
Sejatinya perikanan merupakan suatu sistem bisnis yang terdiri dari tiga subsistem (komponen) Utama, yakni produksi, penanganan dan pengolahan (handling and processing), serta pemasaran. Pada subsistem produksi, kita bisa menghasilkan produk primer perikanan (ikan, udang, kerang-kerangan, echinodermata, dan biota perairan lainnya) melalui dua cara, yaitu penangkapan (perikanan tangkap, capture fisheries) dan pembudidayaan (perikanan budidaya, aquaculture). Oleh sebab itu, kalau kita ingin sukses dalam membangun perikanan nasional, maka kita harus mengelola pembangunan perikanan atas dasar pendekatan bisnis perikanan terpadu. Sosok perikanan Indonesia yang berhasil adalah yang mampu memberikan keuntungan (kesejahteraan) bagi seluruh pelaku usaha (terutama nelayan, pembudidaya ikan, pengolah hasil perikanan, dan pedagang), memenuhi kebutuhan ikan dan produk perikanan nasional, menghasilkan devisa signifikan, serta menghadirkan pertumbuhan ekonomi tinggi (di atas 7% per tahun) secara berkelanjutan (on a sustainable basis).
Dalam praktiknya, pendekatan bisnis perikanan terpadu berarti memastikan, bahwa banyaknya (volume) setiap jenis ikan dan produk perikanan yang diproduksi (melalui perikanan tangkap maupun perikanan budidaya) harus sesuai (matching) dengan jumlah kebutuhan dan selera (preference) pasar (konsumen), baik pasar lokal, nasional, maupun ekspor.  Dengan demikian, dari perspektif bisnis, tugas kita di subsistem pemasaran adalah bagaimana agar masyarakat Indonesia dan dunia mengkonsumsi, menggunakan, dan membeli ikan dan produk perikanan sebanyak mungkin dengan harga yang menguntungkan para produsen.
Sementara itu, tugas subsistem penanganan dan pengolahan (pasca panen) adalah untuk menjamin, bahwa kualitas, keamanan (safety), rasa (taste), bentuk sajian, dan kemasan (packaging) ikan dan produk perikanan memenuhi segenap persyaratan dan selera konsumen (pasar). Pada subsistem inilah, proses peningkatan nilai tambah terhadap ikan dan produk perikanan berlangsung.
Bahkan, mengacu pada UU N0.31/2004 tentang Perikanan, proses penciptaan nilai tambah dalam sektor perikanan juga bisa ditempuh dengan menerapkan bioteknologi.  Yakni dengan cara mengekstraksi senyawa aktif (bioactive substances) atau produk alamiah (natural products) dari biota perairan, kemudian memprosesnya menjadi ratusan produk industri makanan dan minuman, obat-obatan (farmasi), kosmetik, cat, film, bioenergi, kertas, dan lainnya.
Selama ini, cara-cara kita mengelola pembangunan perikanan, baik di daerah maupun di tingkat pusat, pada umumnya bersifat parsial dan terpilah-pilah.  Acap kali kita hanya terfokus menggenjot produksi, tetapi lupa mengembangkan pasarnya, dan sebaliknya. 
Dengan demikian, para nelayan dan pembudidaya ikan Indonesia sampai sekarang masih sering tertimpa dilema market glut.  Suatu keadaan, dimana kalau tidak ada atau sedikit ikan (musim paceklik atau bukan musim panen) harga ikan tinggi (bagus), tetapi begitu musim penangkapan atau panen ikan, harganya turun drastis. 
Penyakit kronis ini secara sistematis sudah mulai disembuhkan oleh DKP sejak awal 2002 antara lain melalui program utamanya berupa penguatan dan pengembangan pelabuhan perikanan sebagai pusat bisnis perikanan terpadu, pembangunan pasar ikan higienis, serta  match making (mempertemukan) para produsen (nelayan dan pembudidaya ikan) dan para pembeli baik nasional maupun asing.
Dalam hal penanganan dan pengolahan hasil (industri pasca panen), kita pun tertinggal dibanding Thailand, Malaysia, dan Singapura.  Ikan dan produk perikanan Thailand lebih menguasai pasar Jepang, AS, dan Uni Eropa. Karenanya wajar, meskipun saat ini total volume produksi perikanan Thailand (urutan-12 dunia) jauh lebih kecil ketimbang Indonesia (urutan-5), namun nilai ekspor perikanan Thailand (US$ 3,9 miliar) jauh melampui Indonesia yang hanya US$ 2,1 miliar. 


















BAB 2
SEJARAH DAN PERKEMBANGAN AKUAKULTUR

SEJARAH AKUAKULTUR
Menurut naskah Cina kuno dari abad ke-5 SM menunjukkan bahwa budidaya telah dilakukan di Cina. Meskipun bukan sesuatu yang sangat mendatangkan keuntungan. Hieroglif Mesir menunjukkan Mesir dari Kerajaan Tengah (2052-1786 SM) berusaha membudidaya ikan secara intensif. Mengikuti jejak Mesir, Roma juga mengembangkan praktek akuakultur. Mereka diketahui telah membudidayakan kerang oysters. Budidaya yang ditetapkan oleh Roma adalah bentuk pertama dari akuakultur yang terus berkembang ke dalam beberapa bentuk atau lainnya yang lebih modern .
Semua bentuk awal budidaya sangat berbeda dengan  sebagian besar budidaya yang dilakukan saat ini. Perbedaan utamanya  adalah bahwa perikanan budidaya di zaman kuno, ikan yang dipelihara adalah ikan kecil yang diambil dari perairan. Tidak ada pembenihan. ikan terus dibiarkan bertumbuh dengan menciptakan lingkungan yang sesuai untuk petumbuhannya. Ikan mas, di Cina, ribuan tahun yang lalu dikumpulkan pada usia remaja dan dipindahkan ke kolam khusus tempat mereka tumbuh. Orang Mesir dan Roma membuktikan praktek ini tidak terbatas pada ikan mas tetapi digunakan dengan jenis lain seperti kerang dan makhluk lain lain yang mampu bertahan bila dipindahkan ke kolam budaya.
Budidaya ikan dalam bentuk modern pertama kali diperkenalkan pada tahun 1733 ketika seorang petani Jerman berhasil mengumpulkan telur ikan, dibuahi, dan kemudian tumbuh dan memelihara ikan yang menetas. Untuk melakukan hal ini, jantan dan betina ikan  trout disatukan dalam satu tempat ketika siap untuk pemijahan. Telur dan sperma dikeluarkan  dari tubuh mereka dan dimasukkan dalam tempat yang kondisinya menguntungkan. Benih  dibawa ke tank atau kolam di mana mereka dibudidayakan. Awalnya ini budidaya ikan terbatas pada ikan air tawar. Pada abad ke-20 teknik-teknik yang baru telah dikembangkan dan  berhasil mengembang biakan spesies laut.
Sebagian  ilmuwan telah mempelajari lebih lanjut tentang siklus kehidupan ikan budidaya dan rangsangan yang mendorong pengembangannya, petani ikan terus mengembangkan teknik mereka untuk mendapatkan kontrol lebih besar atas pembangunan perikanan tersebut. faktor-faktor yang penting bagi petani ikan tujuan komersial adalah stimulus yang mendorong pertumbuhan, pematangan seksual, dan reproduksi. kemajuan terbaru lainnya termasuk pengendalian penyakit dan imunologi. Untuk sebagian besar sejarah modern akuakultur, hanya ikan-ikan  mewah seperti salmon dan udang. Namun pada saat ini budidaya telah memungkinkan untuk berbagai ikan dengan mempertimbangkan biaya budidaya yang efektif dan efisien.

PERKEMBANGAN AKUAKULTUR
Akuakultur merupakan kegiatan pemeliharaan hewan pada air tawar, payau dan air laut, adalah salah satu kegiatan yang mendorong kemajuan ekonomi Amerika Serikat. Secara umum produksi budidaya ikan dan karang telah berkembang dengan sangat cepat sejak tahun 1992. Masyarakat Amerika yakin bahwa akuakutur akan mengurangi tekanan terhadap perikanan samudra.
Agrikultur sejak tahun 1987 mengalami peningkatan penjualan sebanyak tiga kali lipat hingga tahun 1992. Berdasarkan data terakhir pada sensus pada tahun 1998, industri akuakultur di amerika serikat mencapai hampir 1 milyar USD (agalternative.aers.psu.edu).
Produksi domestik akuakultur juga memperlihatkan adanya peningkatan (Harvey, 2003). Perkembangan Akuakultur diharapkan dapat menyediakan berbagai jenis ikan dan kerang-kerangan. Selain untuk pemenuhan makanan hasil laut, produk akuakultur juga dapat bersaing dengan produk impor. Di Louisiana, bisnis akuakultur dari produksi hasil laut melibatkan ratusan produsen dan mendukung keterlibatan pihak lain seperti transportasi, pengolahan, pemasaran dan distribusi, Produksi makanan dan umpan dari akauakultur juga merupakan penyedia keuntungan ekonomi yang subtansif bagi masyarakat pedesaan di Louisiana (BMPS, 2003). Produk akuakultur dapat di pasarkan oleh petani melalui penjualan eceran, petani pasar, pos, supermarket, order perusahaan dan melalui perantara penjualan. Beberapa produsen berkembang juga menjual produknya melalui warung makan bahkan internet. Pembuatan kolam pemancingan juga merupakan kesempatan investasi yang sempurna di Amerika Serikat, pembayaran biaya pemancingan dengan cepat melampui kemampuan pemilik usaha untuk menyediakan ikan sehingga harus disuplai dari kegiatan akuakultur.
Sekarang di Amerika Serikat , produksi akuakultur untuk spesies air tawar perkembangannya jauh lebih cepat bila di bandingkan dengan produksi marine kultur.
Akuakultur saat ini menjadi kegiatan ekonomi yang penting dan saat ini menghadapi kendala yang penting yang mampu menimbulkan kerugian ekonomis yang besar, permasalahan itu adalah penyakit yang disebabkan bakteri pathogen. Di awal perkembangan akuakultur upaya yang dilakukan adalah menggunakan antibiotik sebagai upaya kemoterapi untuk menghilangkan penyakit. Hal ini dipraktekkan secara intensif di awal-awal perkembangan akuakultur bahkan penggunaannya berlebihan. Peningkatan penggunaan antibiotik pada akuakultur malah diikuti oleh bertambahnya penyakit patogenik dan seringkali hal ini sekarang dikaitkan dengan meningkatnya resistensi bakteri patogen terhadap bahan kimia (antibiotik). Kekhawatiran pun muncul dari aplikasi antibiotik pada ikan konsumsi terhadap manusia. Dari berbagai sumber ilmiah disimpulkan bahwa penggunaan antibiotik (seperti Quinolone, Tetracycline dll.) menyebabkan mutasi kromosom pathogen atau akuisisi plasmid.Berbagai solusi diupayakan antara lain vaksinasi, teknologi budidaya yang lebih baik, code of practices, best management practices dan lain sebagainya, tentunya membawa dampak positif pada perkembangan akuakultur. Penggunaan probiotik yang bekerja melalui mekanisme tertentu untuk melawan pathogen, saat ini dipandang sebagai langkah alternatif. Beberapa tahun terakhir probiotik yang sudah biasa digunakan pada manusia dan binatang mulai diaplikasikan kepada bidang akuakultur (Gatesoupe, 1999; Gomez-Gil et al., 2000; Verschuere et al., 2000; Irianto and Austin, 2002; Bache`re, 2003).Tujuan tulisan ini adalah untuk menjelaskan secara singkat prinsip dan mekanisme kerja probiotik.Istilah probiotik ditujukan terhadap bakteri yang mendukung kesehatan organisme lain. Probiotik sendiri dapat ditemukan di alam, diisolasi dan diidentifikasi serta diteliti sifat antagonistik terhadap pathogen secara in vitro. Ada beberapa mekanisme aksi terhadap bakteri pathogen yang dapat dijelaskan antara lain kompetisi eksklusif terhadap bakteri pathogen (contoh: Pseudomonas I2 terhadap beberapa vibrio pathogen udang) , sebagai sumber nutrien dan kontribusi enzim pada pencernaan ikan (contoh: Clostridium sp.), penyerapan material organik yang dimediasi oleh probiotik, serta meningkatnya immunitas ikan terhadap pathogen. Beberapa kandidat probiotik menunjukkan efek antivirus walaupun mekanisme kerja probiotik ini belum jelas akan tetapi eksperimen lab menunjukkan bahwa inaktivasi virus dapat dimediasi oleh substansi kimiawi dan biologis yang diekstrak dari algae maupun extra celullar agent dari bakteri. Beberapa strain Pseudomonas sp., Vibrio sp. dan Aeromonas sp. yang diisolasi dari hatchery salmon menunjukkan aktivitas antiviral terhadap virus IHNV dari salmon (Kamei, et. al. 1988). Sangat penting untuk mengetahui mekanisme kerja probiotik dalam menentukan kriteria untuk probiotik yang berguna untuk mencegah berkembangnya pathogen. Studi yang mendalam masih harus terus dikaji antara lain pengaruh probiotik secara in vivo, pengembangan teknologi molekular untuk seleksi probiotik dan juga untuk lebih memahami kinerja, komposisi dan fungsi dari probiotik
Budidaya/aquakultur yang berlokasi di daerah pesisir sangat berhubungan dengan kondisi tata ruang, sosial budaya, keamanan dan ekonomi masyarakat pesisir tersebut. Oleh karena itu pendekatan pemecahan masalah pedu digarap secara terintegrasi. Pada saat itu sudah waktunya untuk melaksanakan pendekatan dan isu bagi pembangunan budidaya yang lestari dan bertanggungjawab melihat kenyataan bahwa produksi udang di tanah air menurun drastis akibat dari kesalahan pengelolaan. Para pengusaha tambak udang mulai meninggalkan lahannya begitu saja karena menderita rugi terus menerus.
Pemahaman terhadap budidaya yang berkelanjutan perlu dikumandangkan di berbagai pihak, pemerintah perlu menetapkan tindakan tindakan pengawasan terhadap pelaksanaan undang-undang dan peraturan yang berkenaan dengan pengelolaan kawasan pesisir. Pendekatan yang seimbang dan terinformasi dapat dilakukan untuk memusatkan isu-isu perhatian terhadap konsep pembangunan budidaya yang berwawasan lingkunagn dan bertanggungjawab. Penyiapan lingkungan yang kondusif untuk pembangunan budidaya berkelanjutan adalah merupakan tangungjawab bersama, baik pemerintah berikut lembaga-lembaganya, para ilmuwan sosisl dan pengetahuan alam. Media massa, lembaga keuangan, kelompok kepentingan khusus termasuk asosiasi sosial dan sektor swasta produsen budidaya, pabrik serta penyedia masukan, pengolah dan pedagang akuakultur.
























BAB 3
PENGEMBANGAN AKUAKULTUR INDONESIA

Pada abad 21 ini Food and Agriculture Organization (FAO) menyatakan bahwa Perikanan Budidaya (Akuakultur) menjadi salah satu sektor andalan untuk pemenuhan kebutuhan protein hewani dan penciptaan lapangan kerja.  Data statistik FAO tahun 2008 menunjukkan bahwa produksi akuakultur sudah mencapai 47% dari total produksi perikanan dunia, bahkan pada tahun 2030 diperkirakan lebih dari setengah ikan yang dikonsumsi oleh manusia di dunia akan disediakan oleh industri akuakultur. FAO juga menyatakan bahwa sebagai sumber protein hewani yang bernutrisi tinggi, akuakultur telah memiliki peran yang sangat penting dalam memperbaiki keamanan pangan, meningkatkan standar nutrisi, dan mengentaskan kemiskinan. Indonesia memiliki potensi SDA di bidang perikanan budidaya yang besar yang merupakan keunggulan komparitif dibanding negara lainnya. Selain itu, sebagai negara tropis yang dapat berproduksi sepanjang tahun, Indonesia juga memiliki ribuan jenis biota akuatik berupa ikan, udang, kerang, rumput laut dan sebagainya dengan karakter masing-masing yang khas.  Karakteristik produk kegiatan akuakultur dapat berupa ikan konsumsi, bahan baku industri, dan ikan hias (ornamental fishes).
Selanjutnya FAO menyatakan bahwa salah satu tantangan perkembangan akuakultur adalah meningkatkan produksi ikan melalui kegiatan budidaya untuk menggantikan penurunan produksi perikanan tangkap.  Upaya ini mememiliki kendala ilmu pengetahuan (knowledge constraint) yang merupakan tantangan yang harus dihadapi oleh Departemen Budidaya Perairan (BDP). Selain harus menghasilkan SDM, departemen BDP juga harus menghasilkan iptek untuk memecahkan masalah tertsebut.  Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan  (FPIK), Institut Pertanian Bogor (IPB), memiliki mandat mengembangkan ilmu, teknologi dan manajemen perikanan budidaya air tawar, payau dan laut; mencakup ikan, tumbuhan air dan organisme air lainnya (biota akuatik) yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Dengan demikian Departemen BDP merupakan departemen yang kompeten dan bertanggung jawab terhadap perkembangan teknologi dan pengembangan SDM di bidang perikanan budidaya di Indonesia.   Dalam mengimplementasikan mandat dan tugas yang diembannya, di bidang pendidikan Departemen BDP merancang program pendidikan baik untuk program sarjana (S1) maupun pasca sarjana (S2/S3) yang dapat menghasilkan lulusan yang mampu memecahkan permasalahan akuakultur sesuai dengan tuntutan jaman.  Selain itu, departemen juga memiliki perhatian yang serius untuk berperan aktif dalam mengakselerasi pembangunan dan pengembangan bidang Perikanan Budidaya bersama stake holder (swasta, instansi pemerintah dan perguruan tinggi) secara sinergis.  Hal ini juga secara langsung merupakan wahana yang baik dalam mengekspresikan profesionalisme para staf dengan keahlian yang dimilikinya. Ruang lingkup pengembangan ilmu dan teknologi akuakultur tersebut meliputi 5 laboratorium/bagian yaitu: a) Bagian Teknik Produksi dan Manajemen Akuakultur, b). Bagian Reproduksi dan Genetika Organisme Akuatik, c) Bagian Nutrisi Ikan, d) Bagian Kesehatan Organisme Akuatik, e) Bagian Lingkungan Akuakultur.
Dalam memacu perkembangan akuakultur di Indonesia maka salah satu upaya yang dilakukan oleh Pusat Riset Perikanan Budidaya bekerjasama dengan UPT Riset Perikanan Budidaya, Badan Riset Kelautan dan Perikanan, Departemen Kelautan dan Perikanan adalah dengan mengadakan kegiatan
Meningkatnya pertumbuhan populasi penduduk dunia dewasa ini telah menyebabkan meningkatnya konsumsi ikan oleh masyarakat dunia (termasuk Indonesia).  Data tahun 2007 menunjukkan bahwa konsumsi ikan penduduk Indonesia rata-rata 26 kg/kapita/tahun. Dewasa ini akuakultur merupakan sektor penghasil pangan yang tercepat pertumbuhannya di dunia, dengan laju pertumbuhan sekitar 11% per tahun. Indonesia memiliki potensi untuk pengembangan usaha akuakultur, baik air tawar, air payau maupun laut yang sampai saat ini pemanfaatan potensi tersebut masih kecil. Bila potensi ini dapat dimanfaat secara optimal maka akuakultur akan dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi andalan bagi bangsa Indonesia. Untuk itu pemerintah terus melakukan upaya-upaya yang memacu perkembangan usaha akuakultur, antara lain melalui pengembangan teknologi akuakultur tepat guna, pengembangan sistem usaha akuakultur serta penerapan peraturan dan kebijakan yang mendukung pengembangan akuakultur. Agar pembangunan akuakultur yang berdaya saing, berkeadilan dan berkelanjutan dapat diwujudkan maka harus didukung oleh berbagai pihak dalam memanfaatkan potensi sumberdaya tersebut.
Dalam memacu perkembangan akuakultur di Indonesia maka salah satu upaya yang dilakukan oleh Pusat Riset Perikanan Budidaya bekerjasama dengan UPT Riset Perikanan Budidaya, Badan Riset Kelautan dan Perikanan, Departemen Kelautan dan Perikanan adalah dengan mengadakan kegiatan.
Kegiatan ini merupakan media untuk menyampaikan hasil pengembangan teknologi akuakultur tepat guna kepada para pengguna/pembudidaya serta membangun komunikasi antara penghasil teknologi dan pelaku usaha akuakultur di Indonesia.

Masa Depan Budidaya
Akuakultur akan terus menjadi salah satu metode yang paling layak untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan populasi dunia, namun tantangan untuk mempertahankan profitabilitas dan keserasian lingkungan yang menakutkan. Pertumbuhan budidaya telah didorong oleh pemerintah bersemangat awalnya hanya untuk keberhasilan ekonomi, tetapi banyak pemerintah sudah mulai menerapkan pedoman peraturan ketat menangani isu-isu lingkungan dan sosial untuk menjamin keberlanjutan. Di Amerika Serikat, perikanan budidaya berada di bawah pengawasan dekat dari Badan Perlindungan Lingkungan, Food and Drug Administration, National Layanan Kelautan Perikanan, Amerika Serikat Departemen Pertanian dan instansi pemerintah berbagai lingkungan dan kelompok-kelompok lokal. Kanada juga telah mengembangkan pedoman yang ketat untuk menjaga kesehatan lingkungan, dan Brazil, Malaysia, Sri Lanka dan orang lain memiliki semua membuat kemajuan dalam pembentukan kerangka hukum dan peraturan yang mulai memiliki dampak positif pada pengembangan akuakultur.
Meskipun kemajuan seperti itu, masih ada negara-negara produsen utama perikanan budidaya yang tidak memiliki kerangka kerja hukum dan kebijakan yang tepat untuk budidaya. Semua untuk, pemerintah sering gagal memberikan dukungan ekonomi, hukum, dan sosial yang dibutuhkan untuk menjamin keberlanjutan ekonomi dan lingkungan. Dimana pemerintah pada awalnya bagian integral pembangunan, kontraksi keterlibatan pemerintah sekarang lazim, sehingga privatisasi meningkat dan konflik sosial yang sesuai. Sementara isu-isu sosial yang terkenal keras, masalah kualitas air tidak. Teknologi baru seperti sistem sirkulasi dan lepas pantai menjanjikan untuk mengurangi dampak dari akuakultur terhadap lingkungan sekitarnya, tetapi banyak negara tidak dapat mengambil keuntungan dari inovasi ini mahal. Teknologi saja tidak dapat menentukan pendekatan untuk kesinambungan, pengembangan akuakultur harus beradaptasi dengan kebutuhan dan kapasitas negara-negara berkembang. Secara politis, produksi pangan akan tetap menjadi prioritas utama, dan akuakultur akan terus tumbuh. Model harus dikembangkan dengan jelas memprediksi apakah manfaat sosial-ekonomi perikanan budidaya yang sepadan dengan biaya lingkungan.
















BAB 4
NUTRISI DAN PAKAN IKAN

NUTRISI
Nutrisi untuk ikan:
kandungan gizi
yang dikandung pakan
yang diberikan kepada ikan peliharaan
dengan komposisi yang tepat / berimbang
berperan dalam pertumbuhan, reproduksi, ketahanan tubuh
Bergantung pada:
spesies ikan
ukuran (besar / berat) ikan
kondisi kultur
Sumber nutrisi (zat gizi) umumnya diklasifikasikan menjadi lima kategori, yaitu: protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral. Untuk menunjang pertumbuhan dan kelangsungan hidupnya,  membutuhkan nutrisi yang secara kualitatif maupun kuantitatif memenuhi persyaratan sesuai dengan kebutuhan udang tersebut. Zat-zat tersebut harus berada dalam makanan yang secara fisiologis berfungsi sebagai sumber zat pengatur kelangsungan hidup.
A.PROTEIN
Sekitar 50% dari kebutuhan kalori yang diperlukan oleh ikan berasal dari protein. Bahan ini berfungsi ini untuk membangun otot, sel-sel dan jaringan tubuh. Pada umumnya kebutuhan ikan terhadap protein dapat digolongkan secara garis besar sebagai berikut : 15-30% dari total pakan bagi ikan-ikan herbivora, 45% bagi ikan karnivora, sedangkan untuk ikan-ikan muda diperlukan diet dengan kandungan protein 50%.
B.LEMAK
Lemak merupakan sumber utama energi bagi ikan. Lemak berfungsi untuk menjaga stamina dan sebagai media penyimpanan vitamin-vitamin yang larut dalam lemak, seperti vitamin A,D,E dan K. ikan karnivora kebutuhan lemaknya tidak lebih dari 8%. Sedangkan ikan herbivore kebutuhannya tidak lebih dari 3%.
C.KARBOHIDRAT
Karbohidrat diperlukan untuk pertumbuhan dan energi. Ikan tidak memerlukan karbohidrat dalam jumlah yang besar dalam makanannya. Kelebihan karbohidrat diketahui dapat menghambat pertumbuhan ikan.
D.MINERAL
Mineral pada ikan diperlukan untuk menjaga kesehatan tulang, gigi dan bahan sisik. Mineral utama yang diperlukan ialah kalsium dan fosfor. Selain itu mereka juga memerlukan besi, iodine, magnesium, natrium, kalium, tembaga dan seng.
E.SERAT
Serat relative banyak dijumpai pada sayuran. Ikan karnivora tidak dianjurkan pemberian serat yang terlalu banyak dan direkomendasikan kandungannya tidak lebih dari 4%. Sedangkan ikan herbivore dianjurkan untuk memberikan serat dengan kadar 5-10%.
F.VITAMIN
Vitamin E dan A merupakan faktor penting untuk menjaga ikan dalam kondisi prima untuk memijah.
Kekurangan vitamin A dapat menyebabkan pertumbuhan ikan dapat menjadi terhambat dan dapat terjadi tulang punggung melengkung.  

PAKAN
            Pakan merupakan salah satu input penting dalam budidaya ikan, termasuk dalam kegiatan pembenihannya. Oleh karenanya, akhir-akhir ini aspek nutrisi mulai memperoleh banyak perhatian para pakar dan juga usahawan. Berkaitan dengan pakan maka dihadapkan pada masalah-masalah: kuantitatif, kualitatif, kontinuitas dan keseimbanganzat pakan yang terkandung di dalamnya.
Dalam membuat pakan buatan untuk ikan, harus dipertimbangkan beberapa faktor bahan baku untuk pakan, yaitu ketersediaan, harga yang wajar dan kandungan gizi yang cukup.
Pakan ikan buatan yang diberikan dapat dikategorikan menjadi :
1. Pakan alami, merupakan kelompok pakan yang berasal dari hewan yang berukuran renik sampai ukuran beberapa centimeter yang di kultur atau dikumpulkan dari alam; contohnya adalah Artemia, Daphnia dan Cacing Sutra. Pakan alami ini dapat juga berasal dari tumbuhan, misalnya fitoplankton dan daun talas.
2. Pakan lembek, merupakan cincangan ikan-ikan rucah dan cumi-cumi yang langsung diberikan kepada ikan. Daya tahan pakan lembek ini 2 – 3 hari dalam lemari pendingin.
3. Pakan kering lengkap, merupakan pakan berbentuk pelet, “flake” dan “crumble” dengan kadar air rendah sehingga daya tahannya bisa 3 – 4 bulan dan kandungan gizinya cukup lengkap karena dibuat sesuai dengan kebutuhan. Jenis pakan inilah yang akan dikupas lebih mendalam.
            Bahan baku pembuatan pakan ikan dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu bahan baku nabati dan bahan baku hewani.
Bahan Baku Nabati
Dari sekian banyak bahan baku nabati, 70 – 75% merupakan biji-bijian dan hasil olahannya, 15 – 25% limbah industri makanan, dan sisanya hijauan sebagaimana layaknya bahan pakan yang berasal dari biji-bijian, bahan pakan nabati ini sebagian besar merupakan sumber energi yang baik, tetapi karena asalnya dari tumbuhan, kadar serat kasarnya tinggi. Sebagai sumber vitamin, beberapa bahan berbentuk bijian atau lahannya tidaklah mengecewakan.
1. Jagung kuning
Selain jagung kuning, masih ada 2 warna lagi, pada jagung (Zea mays), yaitu jagung putih dan jagung merah. Diantara ketiga warna itu, jagung merah dan jagung putih jarang terlihat di Indonesia. Jagung kuning merupakan bahan baku ternak dan ikan yang populer digunakan di Indonesia dan di beberapa negara. Jagung kuning digunakan sebagai bahan baku penghasil energi, tetapi bukan sebagai bahan sumber protein, karena kadar protein yang rendah (8,9%), bahkan defisien terhadap asam amino penting, terutama lysin dan triptofan.
Kandungan nutrisi jagung :
  • Bahan kering : 75 – 90 %
  • Serat kasar : 2,0 %
  • Protein kasar : 8,9 %
  • Lemak kasar : 3,5 %
  • Energi gross : 3918 Kkal/kg
  • Niacin : 26,3 mg/kg
  • TDN : 82 %
  • Calcium : 0,02 %
  • Fosfor : 3000 IU/kg
  • Asam Pantotenat : 3,9 mg/kg
  • Riboflavin : 1,3 mg/kg
  • Tiamin : 3,6 mg/kg
Sebagai sumber energi yang rendah serat kasarnya, sumber Xantophyll, dan asam lemak yang baik, jagung kuning tidak diragukan lagi. Asam linoleat jagung kuning sebesar 1,6%, tertinggi diantara kelompok biji-bijian.
2. Dedak halus
Dedak merupakan limbah proses pengolahan gabah, dan tidak dikonsumsi manusia, sehingga tidak bersaing dalam penggunaannya. Dedak mengandung bagian luar beras yang tidak terbawa, tetapi tercampur pula dengan bagian penutup beras itu. Hal ini mempengaruhi tinggi-rendahnya kandungan serat kasar dedak.
Kandungan nutrisi dedak :
  • Bahan kering : 91,0 %
  • Protein kasar : 13,5 %
  • Lemak kasar : 0,6 %
  • Serat kasar : 13.0 %
  • Energi metabolis : 1890,0 kal/kg
  • Calcium : 0,1 %
  • Total Fosfor : 1,7 %
  • Asam Pantotenat : 22,0 mg/kg
  • Riboflavin : 3,0 mg/kg
  • Tiamin : 22,8 mg/kg
Kandungan serat kasar dedak 13,6%, atau 6 kali lebih besar dari pada jagung kuning, merupakan pembatas, sehingga dedak tidak dapat digunakan berlebihan. Kandungan asam amino dedak, walaupun lengkap tapi kuantitasnya tidak mencukupi kebutuhan ikan, demikian pula dengan vitamin dan mineralnya
3. Bungkil Kacang Kedelai
Selain sebagai bahan pembuat tempe dan tahu, kacang kedele mentah mengandung “penghambat trypsin” yang harus dihilangkan oleh pemanasan atau metoda lain, sedangkan bungkil kacang kedelai, merupakan limbah dari proses pembuatan minyak kedelai.
Kandungan nutrisi bungkil kacang kedelai :
  • Protein kasar : 42 – 50 %
  • Energi metabolis : 2825 - 2890 Kkal/kg
  • Serat kasar : 6 %
Yang menjadi faktor pembatas pada penggunaan kedelai ini adalah asam amino metionin.
4. Bungkil Kacang Tanah
Merupakan limbah dari pengolahan minyak kacang atau olahan lainnya. Kualitas bungkil kacang tanah ini tergantung pada proses pengolahan kacang tanah menjadi minyak. Disamping itu, proses pemanasan selama pengolahan berlangsung, juga menentukan kualitas bungkil ini, selain dari kualitas tanah, pengolahan tanah dan varietas kacang itu sendiri.
Kandungan nutrisi bungkil kacang tanah :
  • Bahan kering : 91,5 %
  • Protein kasar : 47,0 %
  • Lemak kasar : 1,2 %
  • Serat kasar : 13,1 %
  • Energi metabolis : 2200 Kal/kg
Kadar metionin, triptofan, treonin dan lysin bungkil kacang tanah juga mudah tercemar oleh jamur beracun Aspergillus flavus.
5. Minyak Nabati
Penggunaan minyak diperlukan pada pembuatan pakan ikan yang membutuhkan pasokan energi tinggi, yang hanya dapat diperoleh dari minyak. Minyak nabati yang digunakan hendaknya minyak nabati yang baik, tidak mudah tengik dan tidak mudah rusak. Penggunaan minyak nabati yang biasanya berasal dari kelapa atau sawit pada umumnya berkisar antara 2 – 6 %.
6. Hijauan
Sebagai bahan campuran pakan, kini hijauan mulai dilirik kembali, karena ternyata sampai batasan tertentu hijauan dengan protein tinggi dapat mensubstitusi tepung ikan. Hijauan yang dimaksud antara lain azola, turi dan daun talas, yang bila akan digunakan harus diolah terlebih dahulu, yakni pengeringan (oven atau panas matahari) tapi tidak boleh merusak warna, lalu penggilingan dan pengayakan.
Bahan Baku Hewani
1. Fish meal (ikan rucah)
Umumnya merupakan ikan rucah (ikan kecil-kecil yang ikut tertangkap oleh nelayan) yang kemudian dikeringkan
Ikan mengandung lemak /asam lemak ikatan rangkap yang cukup tinggi sehingga mudah teroksidasi dan mudah tengik
Lemak dalam pakan berfungsi sebagai sumber energi bagi ikan dan sumber asam lemak esensial.
Asam lemak esensial bagi ikan laut adalah kelompok n-3 HUFA.
2. Tepung Ikan
Bahan baku tepung ikan adalah jenis ikan rucah (tidak bernilai ekonomis) yang berkadar lemak rendah dan sisa-sisa hasil pengolahan melalui proses fermentasi untuk meningkatkan bau khas yang dapat merangsang nafsu makan ikan. Kandungan gizi: protein=40-70%; lemak=15,38%; abu=26,65%; serat=1,80%; air=10,72
3. Minyak Ikan
4. Tepung Limbah Udang
(kepala, kulit) protein 44-54%; lemak 5-7%; serat kasar 11-17%
5. Tepung Darah
Bahan: darah, limbah dari rumah pemotongan ternak. Darah beku yang masih mentah dimasak, dikeringkan, kemudian digiling menjadi tepung. Proteinnya sukar dicerna (penggunaannya untuk ikan < 3% dan untuk udang < 5%)
-Protein: 71,45%
-Lemak: 0,42%
-Karbohidrat:13,12%
-Serat: 7,95%
-Air: 5,19.
6. Cacing Tanah
Mudah dibudidayakan,Biaya produksi rendah,Untuk bahan baku pakan,tepung cacing tanah (mudah diserap)
-Protein: hingga 60%
-Lemak: 7%
-Serat kasar: ~1%
-Mineral (Ca, P, Mg, Na, K, Zn, Mn, Fe)
7. Bekicot
-Protein: 54 -64%
-Lemak: 4%
-Serat kasar: 2-3%
-Mineral (Ca, P)







BAB 5
PEMASARAN PRODUK AKUAKULTUR

Industri akuakultur atau perikanan budidaya saat ini menjadi primadona dunia, karena selain menjadi penyedia pangan protein asal ikan yang sehat dan bernilai gizi tinggi, juga sebagai sumber ekonomi yang bernilai tinggi. Kebutuhan pasar akan produk akuakultur pun meningkat sejalan dengan turunnya produksi ikan hasil tangkapan dan meningkatnya jumlah populasi dunia yang mulai sadar pentingnya makan ikan untuk menjaga kesehatan. Dengan kandungan protein tinggi, juga asam lemak omega tiga, mineral dan vitamin A dan D, produk perikanan dapat menjadi sumber pangan dengan kualitas gizi yang baik untuk semua kelompok masyarakat. ”Tingkat konsumsi ikan Indonesia pada 2006, 2007 dan 2008 berturut-turut adalah 25,62 kg/kap/tahun, 26 kg/kap/tahun dan 28 kg/kap/tahun,” kata Direktur Pemasaran Dalam Negeri Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) Departemen Perikanan dan Kelautan (DKP) Saadullah Muhdi. Ikan berkontribusi pada 60% dari kebutuhan protein hewani. Tantangannya adalah, harga ikan dianggap mahal, banyaknya produk impor, dan produk substitusi yang lebih murah. Di samping itu, kontinuitas pasokan ikan juga menjadi kendala tersendiri: pasok ikan laut sangat tergantung pada cuaca, harga bahan bakar minyak. Untuk pasok ikan budidaya, harga pakan pabrik menjadi kendala yang lain.
Untuk pasar domestik, urai Muhdi, produk ikan unggulan terbagi dalam beberapa target pasar, yakni:untuk konsumsi rumah tangga adalah ikan kembung, lele, mujair, patin, tongkol, udang dan cumi-cumi. Untuk konsumen besar seperti Rumah Sakit, Asrama dan Lembaga Pemasyarakatan, ikan yang potensial dikembangkan adalah bandeng, teri, layur, tongkol, mujair, kerang dan ikan kembung. Untuk industri olahan, potensi pengembangannya adalah ikan tuna, udang, kakap, sardin, nila dan rumput laut. Untuk pasar institusional seperti hotel, restoran dan Katering, potensi ikan yang dikembangkan yakni lobster, ikan malas, cumi-cumi, udang, baronang, dan kerapu. Adapun untuk warung tenda, ikan yang bisa digenjot produksinya yakni lele, mujair, nila, patin, tongkol, bawal, dan kembung.
Adapun untuk potensi pasar ekspor, produk ikan yang diandalkan adalah ikan patin, tuna, udang dan rumput laut, Direktur Pemasaran Luar Negeri, Ditjen P2HP DKP Saut Parulian Hutagalung mengatakan, ikan patin atau Pangasius merupakan komoditas yang sangat prospektif untuk dikembangkan, karena selain mempunyai permintaan tinggi di dalam negeri juga merupakan salah satu komoditas budidaya air tawar yang mempunyai pasar yang sangat bagus di Uni Eropa, Amerika Serikat, Eropa Timur, dan Timur Tengah. ”Kami mendorong produk ikan patin dalam negeri sebagai salah satu andalan untuk pasar ekspor,” kata Hutagalung. Potensi sumberdaya alam serta lahan cukup besar tersebar di Sumatera, Kalimantan dan Jawa. Selain itu, teknologi budidaya dan pengolahan sudah dikuasai oleh masyarakat.
Daerah yang memiliki komitmen untuk menjadi sentra produk ikan patin yakni Jambi, Riau dan Kalimantan Selatan. Jenis patin yang dikembangkan saat ini adalah Patin Jambal (Pangasius djambal) dan Patin Siam (Pangasius hypothalamus), dan yang terbaru adalah Patin Pasupati (Pangasius sp) yang merupakan hasil persilangan dari pejantan Patin Jambal dan betina Patin Siam. Patin Pasupati merupakan respon untuk pasar ekspor yang menginginkan daging patin yang berwarna putih. Varietas ikan baru yang dikembangkan DKP ini memiliki sejumlah keunggulan yakni daging berwarna putih, daya tahan lebih tinggi terhadap kondisi lingkungan perairan, dan fekunditas tinggi (bibit yang dihasilkan lebih banyak).
Untuk memacu produksi ikan patin sekaligus memperkuat daya saing produk di pasar global, pemerintah juga telah membuat klaster industri patin dengan pendekatan manajemen terpadu dari hulu ke hilir. Klaster terdiri dari tiga zona, yakni zona I (budidaya). Terdapat di dalamnya adalah kelompok budidaya patin. Zona II adalah koperasi, yang berkewajiban memonitoring produksi kelompok pembudidaya, mengumpulkan hasil produksi, dan mengatur transportasi produk ke Zona III, yang dihuni oleh perusahaan pengolah ikan patin yang bertugas menampung, menangani dan mengolah ikan patin dalam klaster. Sasaran produksi ikan patin tahun 2009 ini adalah 75.000 ton.
Produk perikanan andalan lain untuk pasar ekspor adalah udang, yang produksinya selama periode tahun 2003-2007 mengalami peningkatan sebesar 16,39%,dengan sentra produksi di Provinsi Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, dan Jawa Timur. Tingginya pertumbuhan produksi tersebut disebabkan hama penyakit telah dapat dikendalikan, permintaan pasar sangat besar, dan tidak adanya kuota yang ditetapkan oleh negara pengimpor udang sehingga peluang ekspornya masih sangat besar. Pemerintah melalui Departemen Perdagangan bahkan telah menetapkan komoditas udang pada urutan keenam sebagai komoditas ekspor non migas. Komoditas udang yang dibudidayakan di Indonesia adalah jenis udang vaname dan udang windu.
Udang vaname telah berhasil dibudidayakan dengan menerapkan teknologi intensif, sedangkan udang windu masih dibudidayakan dengan menggunakan teknologi sederhana atau tradisional. Pengembangan udang windu sangat penting karena merupakan udang asli Indonesia, pertumbuhannya cepat dan dapat mencapai ukuran yang besar serta bila dimasak warnanya berubah menjadi berwarna merah cerah sehingga mampu menumbuhkan selera konsumen. Udang windu dapat mencapai ukuran relatif besar dan ideal untuk diolah menjadi tempura, sehingga permintaan pasar Jepang terhadap udang ini sangat besar. Baru-baru ini udang windu mendapat perhatian khusus dari konsumen di Eropa sebagai udang ekstensif yang kualitasnya mendekati udang organik.
Oleh karena itu, pengembangan budidaya udang windu menjadi sangat penting meskipun penerapannya dengan teknologi sederhana atau ekstensif. Menghadapi tantangan global, semua pemangku kepentingan bisnis perudangan mulai dari hatchery, pembudidaya dan pengolah serta eksportir udang harus bersatu untuk kemajuan kemajuan udang Indonesia di pasar internasional. Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Made Nurjana mengatakan, pemerintah telah mendorong pelaku hatchery untuk mengakses sumber induk unggulan dan upaya peningkatan produksi benih, sehingga kebutuhan benur dapat terpenuhi. “Penggunaan benih unggul ini mampu meningkatkan produksi 15-20%,”kata Nurjana.
Untuk meningkatkan kualitas ekspor produk ikan Indonesia, telah didirikan Seafood Service Center (SSC) di Surabaya Jawa Timur yang memfokuskan pada produk udang, ikan dan rumput laut. Pimpinan SSC Johan Suryadarma menjelaskan, lembaganya mendukung program ekspor produk ikan Indonesia dengan berpijak pada lima pilar, yakni penyediaan informasi pasar ekspor, persyaratan akses pasar, pembibingan ekspor, pelatihan pemasaran dan manajemen ekspor, dan diversifikasi produk turunan.
Produk andalan lainnya adalah rumput laut, yang sangat pantas menjadi komoditas utama untuk pasar ekspor karena beberapa keunggulannya. “Keunggulannya yakni peluang ekspor terbuka luas, harga relatif stabil, teknologi pembudidayaannya sederhana, sehingga mudah dikuasai; siklus pembudidayaannya relatif singkat, sehingga cepat memberikan keuntungan, kebutuhan modal relatif kecil; merupakan komoditas yang tak tergantikan, karena tidak ada produk sintetisnya; usaha pembudidayaan rumput laut tergolong usaha yang padat karya, sehingga mampu menyerap tenaga kerja. Kegunaan rumput laut sangat luas, dan dekat sekali dengan kehidupan manusia,” kata Direktur Pengolahan Hasil Perikanan Farid Ma’ruf. Dengan daerah pantai yang luas, tambahnya, Indonesia merupakan salah satu penghasil rumput laut terbesar di dunia setelah Cili untuk Gracilaria sp. dan setelah Filipina untuk Euchema sp., Dua jenis rumput laut tersebut adalah andalan Indonesia tersebut, yakni Gracilaria sp. merupakan bahan baku untuk pembuatan agar, sedang Euchema sp. biasa dikembangkan menjadi karagenan, yang merupakan ingridien pangan untuk penstabil, pengental, dan pembentuk gel.
Pengurus Masyarakat Rumput Laut Indonesia yang juga tim peneliti rumput laut BPPT Jana Tjahjana Anggadireja memperkirakan, kebutuhan dunia pada 2009 untuk karagenan sebesar 74,67 ribu ton. Ia menambahkan, Indonesia memiliki luas area untuk kegiatan budidaya rumput laut seluas 1.110.900 ha, tetapi pengembangan budidaya rumput laut baru memanfaatkan lahan seluas 222.180 ha atau 20% dari luas areal potensial. Adapun dalam tahun 2009 ini, sasaran produksi rumput laut adalah 4.389.300 ton. Untuk menggapai target itu, strategi pencapaian itu ditempuh melalui pola pengembangan kawasan dengan komoditas Euchema sp dan Gracilaria sp, yang luas lahan pengembangan yang diperlukan sekitar 25 ribu ha. Untuk penyedian bibit, dilakukan pengembangan kebun bibit di beberapa sentra pengembangan kawasan yakni di Lampung, DKI Jakarta, Banten, Jabar, Jateng, Jatim, Bali, NTB, NTT, Kalsel, Kaltim, Sulut, Sulsel, Sultera, Maluku dan Papua. Disamping itu akan dilakukan pula pengaturan pola tanam serta perbaikan mutu pascapanen dengan penyediaan mesin pre processing.

Lele untuk pasar dalam negeri
Pemerintah telah menargetkan kenaikan produksi perikanan nasional 20% per tahun. Namun perikanan tangkap hanya mampu tumbuh 4% per tahun. Sehingga perikanan budidaya diharapkan bisa tumbuh 38% per tahun. Pada 2008 lalu, perikanan budidaya mampu tumbuh 15% per tahun. Jika melihat negara-negara lain di dunia yang banyak memacu produksi perikanan budidaya, Perancis banyak mengembangkan Oyster, Kanada mengembangkan Scallop, Norwegia dengan Salmon. Adapun Indonesia dan Vietnam lebih banyak mengandalkan Catfish (lele dan patin). “Dengan potensi lahan yang sangat besar yang belum sepenuhnya dimanfaatkan, budidaya ikan patin dan lele mampu menciptakan peluang kerja dan keuntungan yang cukup besar,” kata Sekretaris Ditjen Perikanan Budidaya Syamsuddin HA. Arah kebijakan DKP dalam pengembangan produksi budidaya untuk ekspor, jelasnya, adalah ikan patin. Adapun untuk pengembangan produksi dalam negeri, lele menjadi andalan utama.
Lele (Clarias spp) merupakan jenis ikan budidaya yang makin populer di masyarakat dengan menjamurnya warung pecel lele di berbagai daerah. Di kota Bogor misalnya, kebutuhannya mencapai 15 ton per hari, Yogyakarta 20 ton per hari, dan Jabodetabek 85 ton per hari, dengan tiap warung tenda membutuhkan rata-rata 7-8 kg per malam. Ikan yang digemari kalangan mahasiswa dan kaum pekerja ini mayoritas dijual dalam kondisi hidup. Di samping itu, masyarakat pun kini mulai kenal produk olahannya seperti abon lele, asap lele, kerupuk lele, juga fillet lele.
Jenis lele yang dikembangkan saat ini adalah lele dumbo (Clarias gariepinus) dan lele sangkuriang (Clarias sp). Jenis yang terakhir merupakan jenis lele unggul yang memiliki pertumbuhan lebih cepat, mortalitas rendah dan memiliki daya tahan lebih baik terhadap serangan penyakit. Sebagai perbandingan, lele sangkuriang yang dikembangkan oleh Balai Budidaya Air Tawar Sukabumi ini dengan benih ukuran 7 – 8 cm hanya memerlukan waktu 58 hari untuk mencapai panen, sedangkan untuk lele dumbo dapat mencapai tiga bulan. Adapun sentra produksi utama lele tersebar di Indramayu (20 ton per hari), Cirebon dan Parung (40 ton per hari), Boyolali dan Demak (10 ton per hari). Sentra produksi lainnya adalah di Kediri, Tulungagung, Sleman, Gunung Kidul, Muaro Jambi, dan Batanghari.





























BAB 6
EKONOMI AKUAKULTUR

Budidaya Ekonomi dan Manajemen adalah jurnal yang relatif baru. Journal menyediakan wadah tunggal pertama untuk ekonomi budidaya dan manajemen makalah terkait - khususnya yang bersifat terapan. Tujuan utama dari Budidaya Ekonomi dan Manajemen adalah untuk mendorong penerapan analisis ekonomi untuk pengelolaan akuakultur baik di sektor swasta dan publik.  Journal menerbitkan asli, berkualitas tinggi tulisan yang berhubungan dengan seluruh aspek ekonomi budidaya dan manajemen termasuk masukan budidaya, produksi perikanan budidaya, manajemen pertanian, pengolahan, distribusi, pemasaran, perilaku konsumen, penetapan harga, kebijakan pemerintah, pemodelan, perdagangan internasional, alih teknologi, kerjasama internasional, dan dampak lingkungan. Makalah ini rekan-ditinjau dan dievaluasi untuk jasa ilmiah dan kontribusi. Negara dan ulasan spesies juga diterima.
Di edisi perdana diterbitkan pada bulan Maret 1997. Tujuan dari isu pertama adalah untuk memberikan tinjauan komprehensif tentang aplikasi dari analisis ekonomi dengan pengelolaan akuakultur baik di sektor swasta dan publik. Himpunan kertas diundang mencakup sejarah berbagai pendekatan dari sudut pandang aplikasi, saat ini Negara of the art, dan prospek masa depan
Budidaya Ekonomi dan Pembiayaan: Manajemen dan Analisis terlihat untuk menyediakan para profesional akuakultur baik dan peneliti dengan rinci dan spesifik menetapkan pedoman untuk menggunakan analisis ekonomi dan keuangan dalam produksi perikanan budidaya. ini akan membahas isu-isu kunci yang terkait dengan baik pembiayaan dan perencanaan untuk bisnis akuakultur, bagaimana untuk memonitor dan mengevaluasi kemajuan ekonomi dan keuangan serta bagaimana mengelola modal, tenaga kerja, dan risiko. Berdasarkan sepenuhnya pada contoh budidaya dan sastra dengan penekanan pada tingkat perikanan dan analisis data dan ditulis dalam terminologi akrab dengan kedua peneliti dan profesional, Budidaya Ekonomi dan Pembiayaan akan menjadi alat penting sekali untuk aquaculturists selama bertahun-tahun yang akan dating.
Dinamika Pasar
          Secara potensial, prospek pasar ikan dan produk perikanan Indonesia sangat menjanjikan, karena tiga alasan. 
1.      Bahwa seiiring dengan terus bertambahya jumlah penduduk Indonesia maupun dunia dan meningkatnya kesadaran masyarakat akan nilai gizi ikan dan produk perikanan bagi kesehatan dan kecerdasan manusia, maka permintaan (demand) terhadap ikan dan produk perikanan bakal terus bertambah.
Konsumsi ikan penduduk dunia meningkat dari 9 kg per kapita pada 1961 menjadi 16,5 kg/kapita pada 2003 (FAO, 2007).  Demikian juga halnya di Indonesia, yang pada 1998 baru mencapai 18 kg/kapita, kini sudah sebesar 28 kg/kapita.
Jika rekomendasi Perhimpunan Ahli Gizi Indonesia terpenuhi, yakni konsumsi ikan penduduk Indonesia rata-rata 30 kg/kapita, maka pada 2010 total kebutuhan ikan nasional (pasar domestik) sebesar 250 juta orang dikalikan 30 kg/orang, yaitu 7,5 juta ton.  Belum lagi kebutuhan ikan dan produk perikanan untuk ekspor, dan untuk industri tepung ikan dan minyak ikan.  Padahal, total produksi ikan dari penangkapan di laut yang maksimum diizinkan sekitar 5,2 juta/tahun (80% dari 6,4 juta ton/tahun, potensi lestari) dan dari penangkapan ikan di perairan umum sekitar 0,5 juta ton/tahun. 
Bayangkan pada 2040, ketika total penduduk Indonesia diperkirakan mencapai 500 juta (BPS, 2006), berarti kebutuhan ikan nasional untuk konsumsi saja mencapai 15 juta ton.  Dan, penduduk dunia yang saat itu sekitar 8 miliar (PBB, 2003) akan memerlukan ikan untuk konsumsi saja, sebesar 132 juta ton. Dengan kata lain, kita mesti meningkatkan produksi aquaculture, yang saat ini baru mencapai sekitar 2 juta ton/tahun atau 3% dari total potensi produksi aquaculture nasional, sekitar 57 juta ton/tahun. 
2.      Dengan semakin menciutnya padang penggembalaan dan menurunnya produksi pakan ternak, maka pasok protein hewani yang berasal dari sapi, babi, ayam, dan ternak lainnya diperkirakan bakal menurun. Ini hanya dapat dikompensasi oleh protein hewani dari ikan dan produk perikanan. 
          Meskipun prospek pasarnya begitu cerah, namun kenyataannya kinerja ekspor perikanan Indonesia masih jauh dari harapan kita bersama.  Seperti sudah diungkap di atas, nilai ekspor perikanan lebih rendah ketimbang Thailand, bahkan kalah oleh Vietnam.
Kalau pada 2002 Indonesia masih merupakan pengekspor udang terbesar ke pasar Jepang, kini kita berada pada posisi ketiga setelah Thailand dan India. Padahal baik potensi maupun realisasi produksi perikanan Indonesia lebih besar daripada kedua negara tersebut.  Ini pertanda ada sesuatu yang salah dengan kinerja subsistem pasca panen dan pemasaran perikanan Indonesia.
          Sebagai ilustrasi betapa masih kurang memadainya kinerja subsistem penanganan dan pengolahan hasil perikanan di tanah air adalah perikanan tuna di Pelabuhan Perikanan Samudra Nizam Zachman, Muara Baru, Jakarta, yang nota bene merupakan pelabuhan perikanan terbesar di Nusantara ini.  Hanya sekitar 45% dari total ikan tuna yang didaratkan di pelabuhan ini, memenuhi persyaratan sebagai tuna kualitas sashimi (sashimi-grade tuna) yang diekspor langsung ke Jepang dengan pesawat terbang. 
Setelah sampai di pasar-pasar ikan Jepang, sekitar 20% dari total ikan tuna yang diimpor dari Indonesia, kualitasnya diturunkan (down-graded) menjadi kualitas raw material-grade tuna. Perlu diketahui, bahwa harga sashimi-grade tuna di pasar Jepang berkisar dari US$ 5/kg sampai US$ 30/kg.  Sedangkan, raw material-grade tuna hanya kurang dari US$ 2/kg (PCI, 2001).
          Sebagaimana kita maklumi, setiap negara pengimpor produk perikanan (Jepang, AS, Uni Eropa, dan lainnya) mengajukan sejumlah persyaratan (requirements) baik yang berkaitan dengan kualitas dan keamanan produk (non-tarrif bariers) maupun pembatasan tarif (tarrif barriers) kepada negara atau perusahaan pengekspor.  Di sinilah kita bersaing dengan negara-negara pengekspor produk perikanan lainnya, terutama Thailand, Cina, Vietnam, India, serta beberapa negara Amerika Selatan dan Amerika Latin. 
          Sebagai negara berpenduduk terbesar keempat di dunia, 230 juta orang, prospek pasar domestik untuk ikan dan produk perikanan di Indonesia diyakini bakal semakin cerah. Kalaulah sampai saat ini, sebagian besar (65%) produk perikanan yang dikonsumsi oleh konsumen Indonesia berupa produk olahan tradisional seperti ikan rebus, ikan kering, ikan asap, ikan asin, pindang, peda, daging ikan dan cincang (minced), maka ke depan dengan semakin meningkatnya daya beli (purchasing power) dan bertambahnya kelas menengah ke atas, permintaan terhadap ikan (seafood) segar, ikan hidup, ikan beku, dan produk berbasis surimi yang siap dimasak (ready-to-cook) dan siap saji atau siap santap (ready-to-serve or to eat) akan semakin berlipat ganda.

Memanfaatkan Peluang
          Untuk dapat memanfaatkan peluang pasar ikan dan produk perikanan yang demikian besar, baik di pasar domestik maupun global, sekali lagi kita harus membangun perikanan Nusantara ini dengan menerapkan pendekatan bisnis terpadu, ada benang merah yang sinergis antara subsistem produksi, penanganan dan pengolahan, serta pemasaran. Selanjutnya, kunci yang menentukan daya saing produk perikanan adalah: (1) kualitas dan keamanan produk, (2) harga yang bersaing (relatif murah), dan (3) kehandalan (reliability) pasokan (supply).
Agar kita bisa menghasilkan produk perikanan dengan keunggulan daya saing yang tinggi tersebut, maka kita harus menggunakan Iptek dan manajemen profesional dalam setiap subsistem perikanan tersebut.  Teknologi penangkapan dan budidaya perikanan harus ramah lingkungan untuk memastikan bahwa pembangunan perikanan yang kita laksanakan dapat berlangsung secara optimal dan berkelanjutan. Tata ruang, pengendalian pencemaran, konservasi ekosistem, pengkayaan stok, dan program perawatan lingkungan lainnya mesti terus dikerjakan.
          Pelaksanaan program rantai dingin (cold-chain system) untuk komoditas-komoditas perikanan bernilai ekonomis penting, yang sudah dirintis DKP sejak 2001 mesti terus diperkuat dan dikembangkan.  Program perawatan dan pembangunan pelabuhan perikanan, tempat pendaratan ikan, dan pasar ikan yang memenuhi HACCP, persyaratan higienis, dan persyaratan mutu produk perikanan secara internasional lainnya harus juga terus ditumbuhkembangkan. 
Program peningkatan kesadaran publik (produsen, pedagang perantara, konsumen, dan lainnya) tentang arti penting mutu dan kemanan ikan dan produk perikanan juga mesti terus digalakkan. Akhirnya, kerja sama sinergis antar seluruh stakeholders perikanan menjadi kunci keberhasilan pembangunan perikanan nasional, terutama yang bertalian dengan aspek penanganan dan pengolahan serta pemasaran hasil perikanan.

ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA
Analisa Usaha Budidaya
Perkiraan analisis usaha budidaya ikan nila selama 1 bulan pada tahun 1999 di daerah Jawa Barat adalah sebagai berikut:
a) Biaya produksi
1. Sewa kolam Rp. 120.000,-
2. Benih ikan nila 4000 ekor, @ Rp.200,- Rp. 800.000,-
3. Pakan
- Dedak 8 karung @ Rp.800,- Rp. 6.400,-
4. Obat dan pupuk
- Kotoran ayam 4 karung, @ Rp.7.000,- Rp. 28.000,-
- Urea dan TSP 10 kg, @ Rp.1.800,- Rp. 18.000,-
- Kapur 30 kg, @ Rp. 1.200,- Rp. 36.000,-
5. Peralatan Rp. 100.000,-
6. Tenaga kerja 1 orang @ Rp. 7500,- Rp. 225.000,-
7. Biaya tak terduga 10% Rp. 133.340,-
Jumlah biaya produksi Rp.1.466.740,-
b) Pendapatan benih ikan 85%,4000 ekor @ Rp.700,- Rp.2.380.000,-
c) Keuntungan Rp. 913.260,-
d) Parameter kelayakan usaha
B/C ratio 1,62



Gambaran Peluang Agribisnis
Dengan adanya luas perairan umum di Indonesia yang terdiri dari sungai, rawa, danau alam dan buatan seluas hampir mendekati 13 juta ha merupakan potensi alam yang sangat baik bagi pengembangan usaha perikanan di Indonesia. Disamping itu banyak potensi pendukung lainnya yang dilaksanakan oleh pemerintah dan swasta dalam hal permodalan, program penelitian dalam hal pembenihan, penanganan penyakit dan hama dan penanganan pasca panen, penanganan budidaya serta adanya kemudahan dalam hal periizinan import. Walaupun permintaan di tingkal pasaran lokal akan ikan nila dan ikan air tawar lainnya selalu mengalami pasang surut, namun dilihat dari jumlah hasil penjualan secara rata-rata selalu mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Apabila pasaran lokal ikan nila mengalami kelesuan, maka akan sangat berpengaruh terhadap harga jual baik di tingkat petani maupun di tingkat grosir di pasar ikan. Selain itu penjualan benih ikan nila boleh dikatakan hampir tak ada masalah, prospeknya cukup baik. Selain adanya potensi pendukung dan faktor permintaan komoditi perikanan untuk pasaran lokal, maka sector perikanan merupakan salah satu peluang usaha bisnis yang cerah.














BAB 7
MANAJEMEN AKUAFARM

Budidaya Perikanan & Manajemen Cabang bertanggung jawab atas pengelolaan sumber daya, penegakan Undang-Undang Perikanan , perikanan Aborigin dan perikanan rekreasi di wilayah Teluk. Cabang ini juga berkoordinasi perikanan lainnya di Teluk St Lawrence dengan dukungan dari Quebec dan daerah Newfoundland. Perikanan & Manajemen Akuakultur Cabang mempekerjakan sekitar 200 orang. Selain itu, 80 persen pekerjaan staf di salah satu dari tiga wilayah di Kawasan Teluk (Eastern New Brunswick, Prince Edward Island atau Teluk Nova Scotia), dan oleh karena itu adalah sangat desentralisasi sebagian besar cabang DFO di Wilayah Teluk.
Budidaya Perikanan & Manajemen Cabang memberikan layanan melalui lima divisi utama:
  • Manajemen Sumber Daya
  • Konservasi dan Perlindungan
  • Perikanan Budidaya dan Rekreasi
  • Aborigin Perikanan
  • Sistem Bisnis dan Perencanaan Strategis












DAFTAR PUSTAKA










Tidak ada komentar:

Poskan Komentar